Penuaan Yang Sehat

Para ilmuwan yang meneliti ginseng, menjelaskan bahwa kandungan aktif dalam ginseng sangat penting untuk menjaga kesehatan terutama dengan meningkatnya resiko masalah kesehatan yang berkaitan dengan bertambahnya usia.

Artikel yang diterbitkan dalam Journal of Ethnopharmacology pada tahun 2006 dan 2007 oleh para peneliti di perguruan tinggi medis di China menyimpulkan bahwa ginsenosides membantu mengontrol penuaan otak dan mendukung kesehatan syaraf otak.

Peniliti di Austria dan Spanyol juga mengatakan bahwa ginsenosides Panax ginseng dapat mendukung aktifitas syaraf dan menunjukkan bahwa ginseng adalah “pilihan yang bagus” untuk meningkatkan kesehatan syaraf.

Dokter-dokter di Mesir juga mengadakan penelitian tentang ginseng dan hasil ulasan  mereka diterbitkan dalam Journal of Pharmacological Science (Jurnal Ilmu Farmakologi).Paradokter tersebut juga mengkonfirmasikan bahwa ginseng sangat bermanfaat dalam proses penuaan dan menghasilkan dampak positif dalam masalah yang berkaitan dengan syaraf.

Sumber: Journal of Ethnopharmacology (2006, 2007 * Acta Neurobioliae Experimenatlis (2005, 2006) * Journal of Pharmacological Sciences (2006)

Tonik Yang Menyegarkan

Jurnal Journal of Pharmacological Sciences. 2006 Mar; 100(3):175-86. Epub 2006 Mar 4
Judul Penggunaan ginseng dalam pengobatan dengan penekanan pada gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kemunduran fungsi saraf
Penulis Radad K, Gille G, Liu L, Rausch WD
Lembaga Department of Pathology and Clinical Pathology, Faculty of Veterinary Medicine, Assiut University, Egypt
E-mail khaledradad@hotmail.com
Ringkasan

Ginseng, akar spesies Panax, adalah obat ramuan yang terkenal. Ginseng telah digunakan sebagai obat tradisional di Cina, Korea, dan Jepang selama ribuan tahun dan sekarang menjadi obat alami yang populer dan digunakan di seluruh dunia.

Kandungan aktif dari ginseng adalah ginsenosides yang juga disebut saponin ginseng. Baru-baru ini, ada peningkatan bukti dalam literatur mengenai fungsi farmakologi dan fisiologis ginseng. Akan tetapi, ginseng telah lama digunakan sebagai tonik untuk memperkuat tubuh yang lemah dan membantu pemulihan homeostasis. Penelitian terakhir secara in vivo dan in vitro telah menunjukkan efek yang menguntungkan dalam berbagai kondisi patologis seperti penyakit jantung, kanker, defisiensi kekebalan tubuh, dan hepatotoksisitas. Selain itu, penelitian terbaru menyarankan bahwa beberapa kandungan aktif ginseng juga memberi efek menguntungkan pada penuaan, gangguan sistem saraf pusat (SSP), dan penyakit yang berkaitan dengan kemunduran fungsi saraf. Secara umum, aktifitas anti-oksidan, anti-inflamasi, anti-apoptosis, dan stimulasi-kekebalan, mendasari kemungkinan mekanisme pelindung melalui ginseng. Selanjutnya penelitian pada hewan, data dari kultur sel saraf berkontribusi pada pemahaman mekanisme ini yang melibatkan penurunan oksida nitrat (NO), pembersihan radikal bebas, dan penangkalan excitotoxicity.

Dalam pengkajian ini, kami memfokus pada laporan tentang efek pengobatan ginseng dan merangkum pengetahuan yang terbaru tentang efek ginseng pada gangguan sistem saraf pusat (SSP) dan penyakit yang berkaitan dengan kemunduran fungsi saraf.

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16518078

Anti-penuaan

Jurnal Journal of Neurological Research. 2004 Jun; 26(4):422-8.
Judul Ginsenosida Rg1 meningkatkan proliferasi sel progenitor hippocampal
Penulis Shen LH, Zhang JT
Lembaga Institute of Materia Medica, Chinese Academy of Medical Sciences and Peking Union Medical College, Beijing, China
Ringkasan Sel saraf progenitor (Neural Progenitor Cells) ada di dalam otak yang sedang berkembang, dan juga di daerah tertentu di otak mamalia dewasa.

Penelitian terbaru menyarankan bahwa peningkatan neurogenesis pada mamalia dewasa mungkin merupakan salah satu terapi untuk menyembuhkan penyakit pelemahan syaraf yang berkaitan dengan meningkatnya usia. Jadi, penelitian ini akan menjadi sangat bernilai untuk penemuan obat yang dapat meningkatkan proliferasi dan / atau kemampuan diferensiasi saraf induk. Penelitian ini menyelidiki pengaruh ginsenosida Rg1, bahan aktif ginseng Panax CA Meyer, pada kemampuan proliferasi sel induk hipokampus tikus baik in vitro dan in vivo. Inkubasi dari NPC dengan ginsenosida Rg1 menghasilkan peningkatan yang nyata dalam nilai serap, penggabungan 3H-thymidine dan jumlah penggandaan bulatan sel –sel induk. Selain itu, pemakaian Rg1 (ip) selama 2 minggu menyebabkan peningkatan jumlah penggandaan sel-sel dalam hippocampus dari tikus dewasa.

Hasil penemuan ini menunjukkan bahwa ginsenosida Rg1 berperan dalam pengaturan proliferasi sel induk hipokampus dan efek ini dapat berfungsi sebagai salah satu mekanisme dasar yang menjadi basis “smart drug” dan “anti-aging”.

Hak Cipta 2004 W.S. Maney and Son Ltd

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16518078

Aktifitas Yin/Yang

Jurnal Chinese Medicine. 2007 May 15; 2:6
Judul Pharmacogenomics dan aktifitas Yin / Yang  ginseng: anti-tumor, angiomodulasi dan aktivitas ginsenosides yang mirip steroid
Penulis Yue PY, Mak NK, Cheng YK, Leung KW, Ng TB, Fan DT, Yeung HW, Wong RN
Lembaga Department of Biology, Faculty of Science, Hong Kong Baptist University, Kowloon Tong, Hong Kong SAR, China
Ringkasan
Dalam pengobatan Cina, ginseng (Panax ginseng CA Meyer) telah lama digunakan sebagai obat kuat  atau adaptogen untuk memperpanjang umur dan meningkatkan fungsi tubuh. Ginseng  juga telah terbukti efektif dalam memerangi stres, kelelahan, oksidan, kanker dan diabetes mellitus. Sebagian besar tindakan farmakologi ginseng dikaitkan dengan satu jenis unsur, yaitu ginsenosides.
Dalam kajian ini, kita memfokuskan pada kemajuan terbaru dalam studi ginsenosides pada angiogenesis yang berhubungan dengan kondisi patologis, termasuk perkembangan tumor dan disfungsi kardiovaskular. Angiogenesis pada tubuh manusia diatur oleh dua faktor yang saling menangkal, stimulator angiogenik dan inhibitor. Aktifitas ‘Yin dan Yang’ ginseng pada angiomodulation disejajarkan dengan data eksperimen yang menunjukkan bahwa angiogenesis memang terkait dengan rasio komposisi antara ginsenosides Rg1 dan Rb1. Peneliti kemudian menemukan bahwa Rg1 menstimulir angiogenesis melalui peningkatan produksi oksida nitrat (NO) dan faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF). Studi mekanistik mengungkapkan bahwa tanggapan seperti itu dimediasi melalui jalur PI3K-> Akt. Dengan menggunakan microarray DNA, sekelompok gen yang berhubungan dengan adhesi sel, migrasi dan cytoskeleton ditemukan up-regulated dalam sel-sel endotelial. Produk-produk gen ini dapat berinteraksi dalam pola kaskade hirarkis untuk memodulasi dinamika arsitektur sel yang seiring dengan fenomena yang diamati dalam angiogenesis. Sebaliknya, efek anti-tumor dan anti-angiogenik ginsenosides (misalnya Rg3 dan Rh2) telah dibuktikan dalam berbagai model sel tumor dan endotelial, menunjukkan bahwa ginsenosides dengan kegiatan yang berlawanan ada didalam ginseng.

Ginsenosides dan ginseng Panax ekstrak telah dibuktikan memberi efek protektif pada disfungsi vaskular, seperti hipertensi, gangguan aterosklerosis dan cedera iskemik. Karya terbaru telah menunjukkan molekul target ginsenosides menjadi kelompok nuklir reseptor hormon steroid. Bukti-bukti ini mendukung interaksi antara ginsenosides dan berbagai nuklir reseptor hormon steroid mungkin menjelaskan berbagai aktifitas farmakologi ginseng. Temuan ini juga dapat mengarahkan pengembangan obat yang lebih berkhasiat dari ginseng untuk penyakit yang berhubungan dengan angiogenesis.

 

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17502003

Kulit Yang Awet Muda

Jurnal Journal of Ethnopharmacology. 2007 Jan 3; 109(1):29-34. Epub 2006 Jul 3
Judul Panax ginseng menginduksi pembentukan tipe I kolagen manusia melalui aktivasi sinyal Smad
Penulis Lee J, Jung E, Lee J, Huh S, Kim J, Park M, So J, Ham Y, Jung K, Hyun CG, Kim YS, Park D
Lembaga Biospectrum Life Science Institute, 101-701 SK VENTIUM, 522 Dangjung Dong, Gunpo City, 435-833 Gyunggi Do, Republic of Korea
Ringkasan Penyebab utama penuaan kulit tampaknya terkait dengan menurunnya kolagen Tipe I, komponen utama dari lapisan kulit dermal. Hal ini perlu diingat dalam penggunaan unsur yang tepat untuk mengontrol penuaan kulit secara efektif; unsur ini harus memiliki efek samping seminimal mungkin dan memperkecil efek pengkerutan kulit .Pada waktu kami memilih zat-zat yang meningkatkan produksi kolagen, kami mendapatkan Panax ginseng C.A. Meyer. Penelitian ini dirancang untuk menyelidiki potensi peningkatan produksi kolagen dari ekstrak akar (PGRE) Panax ginseng C.A. Meyer  pada sel fibroblast dermal manusia. Sebagai langkah pertama, pengujian peningkatan enzim COL1A2 manusia dilakukan pada sel-sel fibroblast dermal manusia. Dalam pengujian ini, PGRE mengaktifkan peningkatan aktivitas COL1A2 manusia dengan cara pemekatan-ketergantungan. Sintesis Tipe I prokolagen manusia juga diinduksi oleh PGRE. Hasil ini menunjukkan bahwa PGRE meningkatkan produksi kolagen pada sel fibroblast dermal manusia. Selain itu, kami telah berusaha untuk mencirikan mekanisme aksi PGRE dalam sintesis Tipe I prokolagen. Telah diketahui bahwa PGRE menginduksi fosforilasi Smad2, suatu faktor transkripsi yang penting dalam produksi Tipe I prokolagen. Ketika dioleskan pada kulit manusia untuk tes primer iritasi kulit, PGRE sama sekali tidak menyebabkan reaksi yang merugikan.Oleh karena itu,  kami menyarankan bahwa PGRE mungkin dapat dianggap sebagai unsur yang menarik untuk mengurangi kerutan di wajah melalui pemakaian topikal. 

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16890388

Melindungi Sel Otak dan Sel Saraf

Jurnal Acta Neurobiol Exp (Wars). 2006; 66(4):369-75
Judul Efek perlindungan saraf dari ginsenosides
Penulis Rausch WD, Liu S, Gille G, Radad K
Lembaga Institute for Medical Chemistry, Veterinary Medical University, Veterindirplatz, 1 A-1210 Vienna, Austria
Ringkasan Ginseng, akar spesies Panax, adalah obat ramuan yang terkenal. Ginseng telah digunakan sebagai obat tradisionaldi Cina,Korea, dan Jepang selama ribuan tahun dan sekarang menjadi obat alami yang populer dan digunakan di seluruh dunia.Penelitian terakhir secara in vivo dan in vitro telah menunjukkan efek yang menguntungkan dalam berbagai kondisi patologis seperti penyakit jantung, kanker, defisiensi kekebalan tubuh, dan hepatotoksisitas. Ginsenosides atau saponin ginseng sebagai kandungan aktif ginseng memiliki sifat anti-oksidan, anti-inflamasi, anti-apoptosis dan imunostimulan, yang menimbulkan spekulasi bahwa senyawa ini secara positif dapat mempengaruhi gangguan kemunduran saraf dan menunda penuaan saraf. Akan tetapi data klinis yang konklusif pada manusia masih belum ada.

Namun, hasil dari studi hewan dan percobaan kultur sel saraf menunjukkan bahwa ginsenosides dapat menangkal dan menipiskan faktor-faktor kematian neuronal seperti racun lingkungan, fungsi excitotoxic glutamat dan peningkatan kalsium/pengapuran intrasel, pelepasan radikal bebas yang berlebihan dan peluruhan/kematian sel-sel tubuh.

Dengan demikian, fungsi perlindungan saraf dari ginsenosides dapat dianggap sebagai pilihan yang baik untuk memperlambat penyakit yang berkaitan dengan kemunduran saraf.

 

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17265697

Ginsenosides untuk Kesehatan Otak

Jurnal Brain Research. 2006 Aug 23; 1106(1):91-8. Epub 2006 Jul 11
Judul Ginsenosida RB1 meningkatkan  pelepasan neurotransmitter dengan cara  modulasi fosforilasi synapsins melalui jalur cAMP-dependent kinase protein
Penulis Xue JF, Liu ZJ, Hu JF, Chen H, Zhang JT, Chen NH
Lembaga Institute of Material Medica, Chinese Academy of Medical Sciences and Peking Union Medical College, Beijing 100050, China
Ringkasan Ginseng, akar ginseng Panax C.A. Meyer (Araliaceae), telah banyak digunakan dalam pengobatan tradisional asia untuk pencegahan dan pengobatan gangguan yang berkaitan dengan penuaan selama lebih dari 2000 tahun. Bukti-bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa ginsenosides seperti Rg1 dan RB1, yang merupakan bahan aktif secara farmakologi ginseng, memodulasi neurotransmisi. Synapsins yang kaya phosphoproteins adalah penting untuk mengatur pelepasan neurotransmitter. Semua synapsins mengandung domain amino-terminal pendek A yang sangat dikonservasi/dilestarikan dan terfosforilasi oleh cAMP-dependent protein kinase (PKA), yang memegang peranan penting dalam pengaturan pelepasan neurotransmitter.Dalam penelitian ini, kami menunjukkan bahwa baik Rg1 dan Rb1 meningkatkan pelepasan neurotransmitter dalam sel PC12 baik yang di-diferensiasi maupun yang tidak di-diferensiasi. Namun, dengan adanya inhibitor PKA, H89, Rg1 tapi tidak Rb1, masih menyebabkan pelepasan neurotransmitter. Selain itu, Rb1 (bukan Rg1) meningkatkan fosforilasi synapsins melalui jalur PKA.Singkatnya, Rb1 meningkatkan pelepasan neurotransmitter dengan meningkatkan fosforilasi synapsins melalui jalur PKA, sedangkan efek yang sama diamati dengan Rg1 independen/terlepas dari fosforilasi synapsins. 

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16836988

Pelindung Sel Otak

Jurnal Acta Pharmacologia Sinica. 2005 Feb; 26(2):143-9
Judul Efek ginsenosida Rg1 dan RB1 sebagai anti-amnesia dan anti-penuaan beserta mekanisme kerjanya
Penulis Cheng Y, Shen LH, Zhang JT
Lembaga Institute of Materia Medica, Peking Union Medical College and Chinese Academy of Medical Sciences, Beijing 100050, China
Ringkasan Dalam tulisan ini, kita mengkaji penemuan kegiatan biologis baru yang disebabkan oleh ginsenosida Rg1 dan RB1 serta mendiskusikan kemungkinan mekanisme kerjanya. Kedua senyawa dapat meningkatkan efektifitas and struktur plastisitas saraf, terutama Rg1, sebagai salah satu obat molekul kecil, dapat meningkatkan proliferasi dan diferensiasi sel-sel saraf progenitor dalam dentate gyrus hippocampus dari tikus dewasa yang normal dan model iskemia global dalam gerbil.Penemuan ini memiliki nilai yang besar untuk pengobatan penyakit Alzheimer dan gangguan kemunduran saraf lainnya yang ditandai oleh hilangnya neuron. Meningkatkan ekspresi faktor neurotropik yang diturunkan dari otak, Bcl-2 dan enzim antioksidan, meningkatkan pembentukan sinaps baru, penghambatan apoptosis dan kelebihan kalsium adalah faktor-faktor penting pelindung neuron/sel saraf.Rg1 dan RB1 memiliki efek yang sama, tetapi ada beberapa perbedaan dalam segi farmakologi dan mekanismenya. Perbedaan-perbedaan ini mungkin disebabkan oleh struktur kimianya yang berbeda. Rg1 adalah panaxtriol dengan dua gula, sementara RB1 yang panaxtriol dengan empat gula. 

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15663889

Pelindung Selular

Jurnal Indian Journal of Experimental Biology. 2006 Oct; 44(10):838-41
Judul Ekstrak Ginseng menunjukkan aktivitas anti-mutagenik terhadap mutagenesis induksi dalam berbagai strain Salmonella typhimurium
Penulis Geetha T, Saini A, Kaur IP
Lembaga Department of Pharmaceutics, University Institute of Pharmaceutical Sciences, Panjab University, Chandigarh 160 014, India
Ringkasan Telah dilaporkan bahwa ginseng menunjukkan aktivitas anti-oksidan dan anti-mutagenik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkonfirmasi apakah aktivitas antioksidan Ginseng bertanggung jawab untuk aktivitas anti-mutagenik nya. Ekstrak pekat dari akar Panax ginseng (ekstrak Ginseng I) dan lyophilized powder (ekstrak Ginseng II) yang diperoleh dari dua pabrik pengolah ginseng yang berbeda, diuji terhadap mutagenesis dengan menggunakan sistemAmesmikrosomal yang sudah distandardisasi. Ekstrak-ekstrak tersebut menunjukkan  efek antimutagenik terhadap mutagenesis jenis TA100 yang diinduksi dengan hidrogen peroksida, dan terhadap mutagenesis yang diproduksi oleh 4-nitroquinoline-oksida N pada jenis TA98 dan TA100 Salmonella typhimurium. Kedua ekstrak gagal menunjukkan potensi antimutagenik terhadap ters-butil hidroperoksida (sebuah mutagen oksidatif) pada jenis TA102, jenis yang sangat sensitif terhadap spesies yang oksigen aktif. Ekstrak-ekstrak tersebut juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang lemah dalam serangkaian tes in vitro sistem yaitu, 1,1-difenil picryl hydrazyl (DPPH) assay., pembersihan(?) hidrogen peroksida dan pembersihan(?) anion superoksida.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efek protektif yang ditunjukkan oleh ekstrak-ekstrak ginseng  terhadap 4-nitroquinoline-oksida dan mutagenesis yang diinduksi dengan hidrogen peroksida dalam TA98 dan TA100 bisa jadi disebabkan oleh sifat ginseng yang  memulai dan meningkatkan perbaikan DNA dan bukan pada tindakan pembersihan radikal bebasnya. 

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17131915

Ginseng Memberi Perlindungan Anti Oksidan ke Otak

Jurnal Biochim Biophys Acta. 2007 Sep; 1770(9):1308-16. Epub 2007 Jun 28
Judul Efek individu ginsenosides sebagai  pelindung saraf pada pembiakan astrosit primer
Penulis López MV, Cuadrado MP, Ruiz-Poveda OM, Del Fresno AM, Accame ME
Lembaga Department of Pharmacology, School of Pharmacy, Complutense University, Madrid, Spain
Ringkasan Sebagian besar efek farmakologis Panax ginseng pada sistem saraf pusat disebabkan oleh komponen utamanya – ginsenosides.Meskipun kemampuan antioksidan dari akar ginseng telah diketahui, kegiatan ini belum pernah dievaluasi untuk ginsenosides yang diisolasi pada astrosit. Kegiatan protopanaxadiols Rb (1), Rb (2), Rc dan Rd, dan protopanaxatriols Re dan Rg (1) dievaluasi secara in vitro pada pembiakan astrosit primer melalui cara model stres oksidatif dengan H (2) O (2) . Kelangsungan hidup astrosit ditentukan dengan uji reduksi MTT dan oleh pelepasan LDH ke dalam media inkubasi.Efek pada katalase enzim antioksidan, superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GPX) dan glutation reduktase (GR) dan pada pembentukan intraseluler spesies oksigen reaktif (ROS) juga diselidiki. Paparan astrosit ke H (2) O (2) menurunkan kelangsungan hidup sel serta aktivitas enzim antioksidan dan meningkatkan pembentukan ROS. Stres oksidatif menghasilkan kematian sel yang signifikan yang dikurangi dengan pengobatan sebelumnya dengan ginsenosides yang diuji.Ginsenosides Rb (1), Rb (2), Re dan Rg (1)  efektif dalam mengurangi kematian astrocytic, sementara Rb (1), Rb (2), Rd, Re dan Rg (1) menurunkan pembentukan ROS; Re ginsenosida adalah yang paling aktif. Ginsenosides dari Panax ginseng merupakan pelindung saraf terutama melalui aktivasi enzim antioksidan.Sebagian besar efek farmakologis Panax ginseng pada sistem saraf pusat disebabkan oleh komponen utamanya – ginsenosides.Meskipun kemampuan antioksidan dari akar ginseng telah diketahui, kegiatan ini belum pernah dievaluasi untuk ginsenosides yang diisolasi pada astrosit. Kegiatan protopanaxadiols Rb (1), Rb (2), Rc dan Rd, dan protopanaxatriols Re dan Rg (1) dievaluasi secara in vitro pada pembiakan astrosit primer melalui cara model stres oksidatif dengan H (2) O (2) . Kelangsungan hidup astrosit ditentukan dengan uji reduksi MTT dan oleh pelepasan LDH ke dalam media inkubasi.Efek pada katalase enzim antioksidan, superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GPX) dan glutation reduktase (GR) dan pada pembentukan intraseluler spesies oksigen reaktif (ROS) juga diselidiki. Paparan astrosit ke H (2) O (2) menurunkan kelangsungan hidup sel serta aktivitas enzim antioksidan dan meningkatkan pembentukan ROS. Stres oksidatif menghasilkan kematian sel yang signifikan yang dikurangi dengan pengobatan sebelumnya dengan ginsenosides yang diuji.Ginsenosides Rb (1), Rb (2), Re dan Rg (1)  efektif dalam mengurangi kematian astrocytic, sementara Rb (1), Rb (2), Rd, Re dan Rg (1) menurunkan pembentukan ROS; Re ginsenosida adalah yang paling aktif. Ginsenosides dari Panax ginseng merupakan pelindung saraf terutama melalui aktivasi enzim antioksidan.

 

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17659841

Efek Anti-Inflamasi Ginseng

Jurnal Neuroscience Letters. 2007 Jun 21; 421(1):37-41. Epub 2007 May 22
Judul Senyawa K Ginsenosides dan Rh (2) menghambat aktivasi nekrosis faktor induksi-alfa tumor NF-kappaB dan jalur JNK dalam sel astroglial manusia
Penulis Choi K, Kim M, Ryu J, Choi C
Lembaga Laboratory of Computational Cell Biology, Department of Brain and Bioengineering, Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), Daejeon 305-701, Republic of Korea
Ringkasan Ginsenosides, komponen utama Panax ginseng, telah dikenal untuk sebagai penangkal anti-inflamasi dan anti-proliferasi. Dalam studi ini, kami menyelidiki pengaruh mekanisme molekuler ginsenosides sebagai obat anti-inflamasi pada sel astroglial yang diaktifkan. Di antara 13 ginsenosides yang berbeda, bakteri usus mencernakkan Rh (2) dan senyawa K (C-K) menunjukkan efek penghambatan yang signifikan terhadap tumor necrosis factor-alfa (TNF-alpha)-diinduksi ekspresi molekul adhesi antar-1 pada sel astroglial manusia. Pra-perawatan dengan C-K atau Rh (2) menekan TNF-alfa-diinduksi fosforilasi IkappaBalpha kinase dan fosforilasi berikutnya dan degradasi IkappaBalpha. Selain itu, perlakuan yang sama menghambat TNF-alpha-induced fosforilasi MKK4 dan aktivasi berikutnya dari jalur JNK-AP-1. Efek penghambatan ginsenosides pada TNF-alfa-diinduksi aktivasi NF-kappaB dan JNK jalur tidak diamati pada sel manusia monocytic U937.Hasil ini menunjukkan bahwa secara kolektif, ginsenosida mengolah C-K dan Rh (2) menghasilkan efek anti-inflamasi dengan menghambat NF-kappaB dan jalur JNK dalam cara sel-spesifik. 

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17548155

Kesehatan Jantung dan Kardiovaskular

Jurnal Journal of Ethnopharmacology . 2007 May 22; 111(3):567-72. Epub 2007 Jan 12
Judul Efek penghambatan ginsenosida RB1 pada hipertrofi jantung yang diinduksi oleh monocrotaline pada tikus
Penulis Jiang QS, Huang XN, Dai ZK, Yang GZ, Zhou QX, Shi JS, Wu Q
Lembaga Chongqing Medical University, Department of Pharmacology, 400016 Chongqing, China
Ringkasan Ginseng, akar ginseng Panax, telah digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit selama ribuan tahun di Cina. Salah satu komponen ginseng yang efektif, Ginsenosida Rb1 (Rb1),  dilaporkan bahwa komponen ini  melepaskan oksida nitrat dan menurunkan intraseluler bebas Ca2 + di miosit jantung, keduanya memainkan peranan penting dalam efek antihypertrophic. Penelitian ini diadakan untuk mengetahui pengaruh potensi Rb1 pada hipertrofi ventrikel kanan (RVH) yang diinduksi oleh monocrotaline (MCT) dan kemungkinan pengaruhnya terhadap sinyal jalur transduksi kalsineurin (CaN). Hewan yang diobati dengan MCT  kemudian diberi Rb1 (10 dan 40 mg / kg) dari hari pertama sampai hari ke-14 (pemberian obat untuk pencegahan) atau dari hari ke-15 sampai hari ke-28 (pemberian obat untuk terapi), atau dengan sarana sebagai kontrol yang sesuai. Setelah 2 minggu, reaksi hipertrofik terlihat nyata, termasuk indeks RVH dan ekspresi mRNA peptida natriuretik atrium, muncul di ventrikel kanan semua hewan yang diobati dengan MCT (p <0,05). Reaksi hipertrofik menurun secara signifikan dengan adanya beberapa perbaikan myocardial pathomorphology baik dalam kelompok pencegahan Rb1 dan kelompok terapi (p <0,05). Demikian pula, pengobatan dengan MCT menyebabkan angka mRNA yang tinggi dan / atau protein CaN, NFAT3 dan GATA4 dari cardiocytes (p <0,05) dan Rb1 bisa mengurangi angka-angka dari faktor-faktor di atas (p <0,05).Hasil ini menunjukkan bahwa pengobatan dengan Rb1 dapat menghambat RVH yang disebabkan oleh MCT, yang mungkin terlibat dalam efek penghambatan pada sinyal jalur transduksi CaN.

PubMed Link – http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17374466